Mengungkap Jejak Aki Balangantrang di Geger Sunten Ciamis

Written by redaksi

April 16, 2020

Jamparing.id, INFO WISATA CIAMIS— Pesona Galuh Nagari jargonnya pariwisata Ciamis. Makna dari jargon tersbut sarat dengan nilai keluhungan masyarkat Sunda.

Tak heran banyak pengunjung dan wisatawan domestik maupun mancanegara datang ke Tanah Galuh untuk menelisik keunikan negerinya pada raja Nusantara tersebut.

Salah satu tempat yang menjadi daya magnet buat para pengemar penjelajah sejarah yaitu Situs Kabuyutan Geger Sunten.

Geger Sunten merupakan salah satu kampung kecil dan dikenal sebagai situs kabuyutan yang berada di wilayah Desa Sodong Kec. Tambaksari, Kabupaten Ciamis.

Lokasinya cukup terpencil, dan di sekiatarnya masih banyak pohon-pohon langka dan juga tanah berbatu terjal dan terletak di sebelah Timur Kampung Adat Kuta.

Geger Sunten dan Ciung Wanara

Dilansir dari laman Dinas Pariwisata Provinsi Jabar, Nama Geger Sunten muncul dalam kisah Ciung Wanara yang terkenal di seluruh Nusantara.

Seperti yang tercatat dalam buku “Yuganing Rajakawasa” (disusun oleh Drs. Yoseph Iskandar) Geger Sunten merupakan tempat bermukimnya Aki Balangantrang.

Tokoh yang aslinya bernama Sang Bimaraksa ini merupakan putra bungsu Sang Jantaka dari Denuh yang lahir tahun 653 masehi. Sang Bimaraksa muncul dalam beberapa babak konflik perebutan kekuasaan di Kerajaan Galuh.

Sang Bimaraksa adalah cucu Wretikandayun sang pendiri kerajaan Galuh, yang membantu Purbasora (putra Sempakwaja) untuk menggulingkan Sang Senna (putra Mandiminyak) yang saat itu menjadi Raja di Galuh. Sempakwaja, Jantaka dan Mandiminyak adalah putra dari Wretikandayun. Purbasora berhasil menggulingkan Sena dan mulai memerintah Galuh pada tahun 716 masehi.

Dan Sang Bmaraksa menjadi patih kerajaan Galuh. Sedangkan Sena sendiri berhasil melarikan diri dan kemudian diangkat menjadi Raja di Mataram (kalingga Utara).

Sena (putra Mandiminyak dengan Pwah Rababu) melaksanakan perkawinan manu (menikah dengan saudari sendiri) dengan Sanaha (putri Mandiminyak dengan Dewi Parwati) maka lahirlah Sanjaya tahun 683.

Pecahnya Gotrayudha

Sanjaya berniat membalas dendam terhadap Purbasora yeng telah mengusir ayahnya, Dengan bantuan Resiguru Rabuyut Sawal (penguasa di wilayah Gunung Sawal Ciamis) yang mewariskan kitab setrategi perang bernama “Pustaka Ratuning Bala Sarewu”, Sanjaya berhasil membentuk pasukan pilih tanding gabungan dari pasukan Bumi Mataram, Bumi Sembara, dan Sunda.

Akhirnya Purbasora yang berusia 80 tahun gugur dibunuh Sanjaya pada pertempuran di Galuh. Namun Senapati Bimaraksa berhasil meloloskan diri dan bersembunyi di Geger Sunten.

Upaya kudeta muncul lagi saat Tamperan Barmawijaya (putra Sanjaya) menjadi penguasa di Galuh. Tindakannya membunuh Permana Dikusumah secara licik karena ingin memperistri Dewi Pangrenyep diketahui oleh Bimaraksa yang namanya menjadi Aki Balangantrang.

Aki Balangantrang adalah ayah dari Dewi Naganingrum yang diperistri oleh Permana Dikusumah. Dari Dewi Naganingrum, Permana Dikusumah alias Ajar Sukaresi memiliki putra bernama Sang Manarah atau lebih terkenal dengan nama Ciung Wanara.

Geger Sunten pun akhirnya dijadikan tempat untuk menghimpun dan menyusun kekuatan tempur yang dirahasiakan.

Selama 6 tahun Bimaraksa berhasil menyusun pasukan dari partisan-partisan kerajaan yang pernah dikalahkan oleh Sanjaya. Diantaranya dari Saunggalah, sisa-sisa laskar Galuh, dan pasukan Indraprahasta. 

Tepat pada acara Tradisi Tahunan Sabung Ayam, pasukan Geger Sunten yang dipimpin oleh Bimaraksa dan Ciung Wanara berhasil menggulingkan Tamperan Barmawijaya dan membunuhnya. Sang Manarah pun naik tahta dan Bimaraksa kembali Senapati Galuh.

Kematian Tamperan Barmawijaya dan Dewi Pangerenyep membuat murka Sanjaya. Gotrayudha pun pecah kembali, perang berkecamuk tanpa ada yang kalah dan menang. Akhirnya Sang Resiguru Demunawan dai Saunggalah berhasil melerai pertempuran itu, dan dicapailah kesepakatan perdamaian.

Sesepuh Geger Sunten, Abah Ali, mengungkapkan “sejarah di Situs Kabuyutan Geger Sunten ini merupakan tempat para Resi, dan tepat bukit di atas terdapat pohon jati yang menyerupai sebuah kujang, berbeda dengan pohon jati biasanya yang berbentuk lurus, dan juga apabila hendak ziarah kesini, diusahakan memakai pakaian serba putih yang melambangkan kesucian”.

Penulis : Goday

Editor : S. Hidayat

 

Komentar

Related Articles